Berita Terkini:

Jalan Melintas Cagar Alam Danau Dusun Besar Di Tolak!

Selasa, 22 Januari 2008

Tokoh Lembak Tolak Jalan Nakau “Dibuka”
Hari Ini, Batas Akhir Truk Masuk Kota

Senin, 21-Januari-2008, 09:17:54


BENGKULU – Rencana membuka kembali jalan lingkar (ring road) Simpang Empat Nakau – Air Sebakul ditentang keras oleh masyarakat Lembak. Sejumlah tokoh masyarakat Lembak ketika dihubungi koran ini mengakui rencana membukan jalan tersebut kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Lembak.



“Dampak negatifnya sangat banyak sekali bila jalan itu dibuka kembali. Dulu Hasan Zen (Gubernur Bengkulu yang lama) berani menutup jalan itu, setelah melalui pertimbangan yang matang. Dia mempertimbangkan nasib ribuan petani yang mengandalkan air danau dendam. Kalau jalan itu dibuka, maka akan berpotensi merusak daerah tangkapan air,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Lembak Drs. H. Zulkarnain Dali, M.Pd.

Dikatakan Zulkarnain, pihaknya akan membicarakan rencana membuka jalan Nakau – Air Sebakul tersebut secara arif dan bijaksana. Dia mengakui, keinginan membuka jalan itu untuk mensiasati truk-truk tidak masuk dalam Kota.

“Tapi kalau soal jalan lingkar, bisa dicari solusi yang lain. Kita minta masalah ini dipertimbangkan betul dan dikaji secara mendalam. Kita buka menentang program pemerintah, tapi kita memikirkan nasib ribuan warga yang bakal terkena imbas dari dibukanya jalan itu,” tandas Zulkarnain yang juga Ketua Yayasan Bengkulu Bangkit (YBB).

Seperti diketahui, jalan lingkar Simpang Nakau – Air Sebakul dulu sempat ditutup setelah terjadi protes warga Lembak. Masalahnya, jalan tersebut melewati kawasan Cagar Alam Dusun Besar (CADB). Bila jalan tersebut dibuka, sama saja mengundang para perambah masuk sehingga bisa merusak kawasan tangkapan air. Bila daerah tangkapan air rusak, maka debit air Danau Dendam Tak Sudah (DDTS) akan merosot dan mengancam kelangsungan sawah para petani di daerah Tanjung Agung, Tanjung Jaya, Sawah Lebar, Semarang, Sukamerindu.

Perkembangan terbaru, dengan ditutupnya jalan lingkar tersebut, truk-truk sawit dan batubara kini melewati jalan dalam Kota. Akibatnya, banyak jalan dalam Kota yang rusak. Sopir truk tidak punya pilihan lain, karena tidak ada alternatif jalan lingkar. Inilah yang mendasari munculnya wacana untuk membuka kembali jalan lingkar Simpang Empat Nakau – Air Sebakul yang menelan biaya miliaran rupiah.

Di termpat terpisah, Ketua Yayasan Lembak, Ir Usman Yasin, M.Si menyampaikan hal senada. “Kalaupun akhirnya pemerintah, ingin membuka kembali jalur tersebut harus disertai dengan kajian ilmiah yang mendalam. Tidak seperti, pembangunan jalan yang dilakukan sebelumnya. Asal bikin, tidak menghitung dampak selanjutnya akibat dibukanya lahan cagar alam. Jika hal ini terulang kembali, itu artinya yang membangun sama seperti keledai. Mau dua kali jatuh, ditempat yang sama,” berang Usman.

Menurut Usman, pada prinsipnya, pihaknya masih berpatokan dengan hasil keputusan yang ditandatangai Walikota, pada akhir 2002 lalu yang berisikan ditutupnya pembangunan jalan kerena dapat merusak habitat alam yang ada disekitar jalan.

“Keputusan tersebut, juga didukung Gubernur pada waktu itu (Alm. Hasan Zen,red). Kawasan cagar alam, tidak boleh diutak-atik kecuali untuk kepentingan penelitian dan observasi,” kata Usman.
Hasil dari kajiannya, dengan telah ditutupnya jalan sejak 2002 lalu berdampak sangat besar bagi peningkatan kehidupan petani. Dari segi ekonomi, petani dapat menanam padi 2-3 kali setahun. Setiap panen, selalu diiringi turunnya harga beras antara Rp 200-Rp 500.

“Itu artinya, selain petani yang diuntungkan dengan lancarnya proses tanam padi akibat tercukupinya kebutuhan air. Warga Bengkulu pun juga diuntungkan, dengan turunnya harga tersebut. Dalam setahun petani yang berjumlah 1000 KK, dengan luas areal sawah 700-an hektar dapat mensubsisdi pemerintah senilai Rp 10 M/tahun.

Dari turunnya harga tersebut,” beber Usman.
Keuntungan lainnya dari ditutupnya jalan tersebut, terselamatkannya sejumlah ekosistem dan habitat alam yang ada di kawasan cagar alam. Seperti, Aggrek Vanda Hookeriana yang mendapatkan sertifikasi anggrek klas satu dari kerajaan Inggris.

“Itu semua yang perlu dikembangkan, bukannya mengembangkan sarana fisik. Kembangkan sektor pariwisata, hasilnya akan sangat memuaskan bagi pendapatan daerah nantinya nantinya,” tambah Usman.
Pihaknya memberikan solusi yang dinilai, berdampak luas bagi pembangunan daerah tanpa perlu merusak areal cagar alam. Yakni dibukanya rute alternatife bagi angkutan batubara dari arah utara, Talang Pauh- Linggar Galing- Tl Tengah- Pd Kubang-Bentiring-Tb Pasemah-Kembang Seri.

“ Selain tidak mengganggu cagar alam, dampak dari dibukanya rute tersebut adalah untuk pengembangan wilayah pembangunan. Kalau saya pribadi malah menganjurkan tambang batubara itu ditutup saja, karena terbukti hanya menguntungkan pengusaha dan pejabat. Berapa sih yang mereka sumbangkan kepada daerah, sangat tak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan,” imbuh Usman.

Kasi Dishub Provinsi, Drs. Sanuludin mengatakan jika jalur ring road tersebut sudah selesai, tentunya tidak akan perlu lagi memutar terlalu jauh seperti rute yang telah ditetapkan. Hanya saja terkendala dengan habitat alam yang ada disekitar jalur yang akan dibuat tersebut.

Jalur yang ditetapkan Dishub untuk angkutan batubara dari arah utara akan melewati langsung ke Unib-Jl. Kalimantan-Sp Kp Bali-Jl Halmahera-Sp Nakau-Jl raya Tl Empat-Sp Kembang Seri-Air Sebakul-Sp Dewa-P.Baii. Sedangkan dari arah selatan,melewati Sp.Betungan-Pk Sabtu-Ter.Air Sebakul-Sp Pagar Dewa- Pulai Baai. Berlaku efektif mulai hari ini.(oce)

Sumber Rakyat Bengkulu (http://www.harianrakyatbengkulu.com
Share this Article on :

2 Komentar:

tong mengatakan...

kami urung ngetam men deknye ayo lagi dilek om.........

Travel Sumut mengatakan...

perjuangan yang sangat luar biasa

Posting Komentar

 

© Copyright Yayasan Lembak Bengkulu 2010 -2011 | Design by: Usman Yasin.