Jakarta bagi saya bukan sekadar ibu kota. Ia adalah ruang belajar. Di kota yang riuh oleh wacana, perdebatan, dan dinamika kekuasaan ini, saya mendapat kesempatan berharga untuk belajar langsung dari para tokoh yang tidak hanya dikenal sebagai pemikir, tetapi juga pejuang gagasan.
Saya berkesempatan mengikuti, berdiskusi, bahkan berguru kepada sosok-sosok seperti Rizal Ramli, Effendi Ghazali, KH Hasyim Muzadi, Chandra M. Hamzah, Bibit Samad Riyanto, dan Edi Swasono. Masing-masing memberi warna dan perspektif yang berbeda tentang perjuangan, keberanian, dan integritas.
Dari mereka saya belajar bahwa menjadi aktivis bukan sekadar tampil di depan publik. Aktivisme adalah proses panjang membangun cara berpikir, keteguhan sikap, dan keberanian untuk tetap konsisten di tengah tekanan.
Kadang kita berpikir cukup dengan menyimak dari jauh—membaca tulisan, menonton diskusi, atau mengikuti berita. Namun saya merasakan sendiri bahwa menyelami dunia aktivisme membutuhkan lebih dari itu. Kita perlu mendekat. Perlu magang. Perlu berguru. Perlu duduk bersama dan bertukar pikiran secara langsung.
Di situlah pelajaran paling berharga muncul.
Saya melihat bagaimana gagasan besar lahir dari diskusi kecil. Bagaimana keberanian bersikap sering kali dibentuk oleh proses berpikir yang panjang. Bagaimana perbedaan pendapat tidak selalu menjadi konflik, melainkan ruang untuk memperkaya sudut pandang.
Jejak kesempatan yang cukup banyak di Jakarta menjadi sekolah kehidupan bagi saya. Ada momen menjadi pendengar, ada saatnya mengajukan pertanyaan, dan ada pula waktu untuk menguji diri sendiri: apakah saya siap menjalani jalan ini dengan sungguh-sungguh?
Dari proses belajar yang cukup lama itu, saya sampai pada satu kesimpulan penting—bahwa jika ingin bekerja sebagai aktivis secara serius, fondasi ekonomi harus dibangun dengan kuat.
Idealisme tanpa kemandirian ekonomi akan rapuh. Aktivis yang tidak mandiri secara finansial akan lebih rentan terhadap tekanan dan kompromi. Sebaliknya, ketika ekonomi dibangun dengan serius, kita memiliki ruang kebebasan untuk bersikap, berbicara, dan memperjuangkan nilai tanpa rasa takut kehilangan sandaran hidup.
Saya belajar bahwa perjuangan tidak hanya tentang keberanian bersuara, tetapi juga tentang kesiapan menanggung konsekuensi. Dan kesiapan itu lahir dari kemandirian.
Menjadi aktivis bukan pekerjaan sambilan hati. Ia adalah pilihan hidup yang membutuhkan proses belajar, kedewasaan berpikir, jaringan pergaulan, dan fondasi ekonomi yang kuat. Aktivisme adalah kombinasi antara gagasan, aksi, dan keberlanjutan.
Perjalanan ini masih terus berjalan. Namun satu hal yang saya yakini: semakin kita mau berguru, semakin kita mau merendahkan hati untuk belajar, dan semakin serius kita membangun kemandirian, maka semakin kokoh pula langkah kita dalam memperjuangkan nilai.
Jakarta telah menjadi ruang belajar saya. Dan dari sana, saya memahami bahwa aktivisme sejati bukan hanya tentang melawan, tetapi tentang membangun—membangun diri, membangun gagasan, dan membangun kemandirian yang membuat perjuangan tetap menyala.





0 comments:
Posting Komentar