TERBARU !!

Kebijakan Pengelolaan Destinasi Wisata Pantai Panjang Bengkulu Berkelanjutan

Kebijakan Pengelolaan Destinasi Wisata Pantai Panjang Bengkulu Berkelanjutan  Oleh : Ir. Usman Yasin, M.Si  (Dosen Agroteknologi Universitas...

Laman Yayasan Lembak Bengkulu

SELAMAT DATANG DI LAMAN YAYASAN LEMBAK

DAUR HIDUP dari lahir hingga meninggal dunia

DAUR HIDUP dari lahir hingga meninggal dunia
Daur Hidup Suku Lembak Bengkulu. Buku ini menggambarkan bagaimana sebenarnya 'adat istiadat yang terdapat dalam masyarakat Lembak serta beberapa variasinya antara suatu wilayah dengan wilayah lain, yang terjadi sejalan dengan perkembangan zaman dengan adanya pengaruh modernisasi sehinggga apa yang ada dalam masyarakat sekarang ini.

Lokakarya Penyusunan Kamus Bahasa Lembak - Bahasa Indonesia

Iklim Mikro Tanaman, sebuah buku yang membahas pengaruh unsur iklim/cuaca terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman

RAJA SUNGAI HITAM

RAJA SUNGAI HITAM
KISAH DAN SEJARAH PERJUANGAN SINGARAN PATI

Masyarakat Lembak Siap Pasang Badan

Kamis, 07 Februari 2008


Senin, 04-Februari-2008, 09:08:17
(Boulduser Siap Menghancurkan Cagar Alam Danau Dusun Besar, photo by usman yasin)

BENGKULU- Rencana warga Lembak untuk melakukan aksi demo menentang pembangunan Vila dan rencana dibukanya jalan lingkar (ring road) Simpang Empat Nakau – Air Sebakul, tampaknya bukan gertak sambal belaka. Buktinya, saat ini warga lembak sedang mematangkan rencana demo. Hal ini diungkapkan Pimpinan Yayasan Lembak, Ir. Usman Yassin, M.Si.

“Saat ini, kita tengah mengatur strategi, serta mengumpulkan massa yang tergabung dalam 21 kelompok tani se Kota Bengkulu. Anggotanya terdiri 30 orang dalam 1 kelompok tani. Ini akan kita kumpulkan guna merapatkan barisan demi terjaganya ekosistem Cagar Alam Dusun Besar,” tegas Usman.

Dikatakan, para petani yang ada di sekitar Cagar Alam Dusun Besar (CADB) juga siap turun aksi. Sebab, mereka mengandalkan penghidupan dari danau dendam tak sudah (DDTS). Dikhawatirkan, pembangunan vila di tepi danau tersebut akan merusak ekosistem danau.
“Warga sudah siap melakukan aksi dalam waktu dekat.

Yang jelas kami akan melakukan aksi, jika strategi telah dibentuk maka aksi akan dilakukan,” tambahnya.
Seperti diketahui, ada dua masalah yang menyulut amarah masyarakat Lembak. Pertama, pembangunan Vila di tepi DDTS.

Kedua, rencana dibukanya jalan dari Simpang Empat Nakau menuju Air Sebakul yang melintasi kawasan CADB. Pembukaan jalan tersebut dikhawatirkan membuka peluang perambahan. Sehingga kawasan CADB yang menjadi daerah tangkapan air terancam rusak. Dampaknya, para petani yang berada di hilir DDTS terancam.

“CADB merupakan salah satu cagar alam di tengah kota, yang memilki banyak potensi alam mulai dari danau, tumbuhan, maupun yang lainya, CADB juga dapat dijadikan sumber ekonomi dengan keadaan alam yang indah dengan Danau,” terang Usman Yasin.

Pada bagian lain, Usman juga mendesak pemerintah melakukan penghijauan di sekitar DDTS. “Kami tidak main-main untuk melakukan aksi. Jika hal buruk tidak mau terjadi maka perhatikan aspirasi kami ini, sebab CADB merupakan warisan nenek moyang kami dulu, hal tersebut mesti kami perjuangkan,” ancamnya.

Pembangunan Vila saat ini hanya beberapa meter dari bibir danau. Berdasarkan UU No 41/1999 tentang Kehutanan, aktifitas pengrusakan dalam kawasan konservasi merupakan tindak pidana. “Kami tidak setuju, kalau CADB dilakukan pengrusakan oleh tangan yang tidak bertanggung jawab,” bebernya.

Sementara itu, tokoh pemuda Lembak Panorama, Heri Aprianto menegaskan Villa tidak boleh dibangun di tepi danau karena tidak sesuai aturan yang ada. “Kami Pemuda Lembak Panorama siap melakukan aksi, baik secara anarkis maupun secara baik-baik, demi untuk mempertahankan tanah warisan nenek moyang kami,” tegasnya. (cw4)

sumber: http://www.harianrakyatbengkulu.com

Warga Lembak Susun Kekuatan

Kamis, 31 Januari 2008

Warga Lembak Susun Kekuatan
Cagar Alam Harus Jadi Perhatian
Jumat, 25-Januari-2008, 09:16:55


BENGKULU – Pemerintah harus menjadikan Cagar Alam Dusun Besar (CADB) sebagai perhatian. Sebab, jika dibiarkan, kondisi cagar alam seperti zaman 1882 ini, akan semakin rusak. Padahal, CADB merupakan satu-satunya cagar alam di tengah kota. Dan menjadi sumber ekonomi potensial. Hal ini ditegaskan Ketua Adat Masyarakat Dusun Besar, Abdullah Thaib Taher, S.Pd.I kepada RB kemarin.

Menurutnya, isu demo semakin meluas di kalangan masyarakat. Terutama sekitar 4.000 petani di sekitar Danau Dendam Tak Sudah. Karena ketergantungan terhadap kelestarian Danau Dendam sangat tinggi. “Masyarakat dan petani sudah resah. Kita minta rencana pembangunan di bibir Danau Dendam itu dibatalkan.

Jangan sampai keresahan ini menjadi bergejolak,” ancam mantan Koorlap Demo Masyarakat Lembak di zaman Gubernur Hasan Zen ini.
Selain itu, lanjut guru Madrasyah Ibtidayah Nurul Huda Jembatan Kecil ini, mendesak pemerintah daerah, agar memprogramkan penghijauan di sekitar Danau Dendam. “Jika tidak mampu menjaga, hendaknya jangan dirusak,” ketusnya.

Abdullah menyayangkan sikap ‘lepas tangan’ BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Provinsi Bengkulu. Padahal seingatnya, tahun 1980-an, setiap warga yang ingin mengambil kayu untuk pondok sawah atau dapur rumah, ditangkap. “Kok sekarang tidak tegas. Bagaimana mungkin tidak masuk kawasan, sementara jarak pembangunan dari bibir danau tinggal 2 meter. Lantas, untuk apa ada kalimat radius 500 meter di UU No 41/1999 tentang kehutanan,” sesalnya.

Abdullah Thaib Taher menegaskan, tetap akan mengedepankan rasionalitas. Agar didapat solusi yang tepat untuk kemajuan bersama. Jika memang Danau Dendam ingin ditata sebagai kawasan wisata alami, tentunya masyarakat Lembak akan mendukung. “Kami menolak pengrusakan cagar alam,” ulangnya.

Dari informasi di lapangan, diduga rencana pembangunan villa tersebut bakal dilakukan oleh keluarga Gubernur Agusrin M. Najamuddin. Seperti diakui Lurah Dusun Besar, H. Kaludin Nur. “Kabarnya punya keluarga Gubernur. Tapi kami tidak tahu karena tidak pernah dilibatkan. Tahu-tahu sudah gusur,” ujar pak Lurah.

Dari catatan, lokasi itu milik Bachtiar Hosen. Namun, sekarang tidak diketahui, apakah masih miliknya atau sudah berpindah tangan. Lahan yang diratakan dengan alat berat itu masuk wilayah RT II. “Seharusnya tanggungjawab BKSDA menjaga cagar alam. Kalau kami ini, orang kecil,” ujarnya.

Ketika dikonfirmasi, adik kandung Gubernur Agusrin, Sultan B. Najamuddin membantah hal itu. Menurutnya, tidak ada satupun keluarga Gubernur yang membangun villa di bibir Danau Dendam. “Wah isu dari mana itu. Kalau ada yang membangun villa di sana, itu bukan keluarga Agusrin,” tegasnya.

Bahkan, Sultan secara pribadi mendukung untuk diusut tuntas. Sebab hal itu sudah berkaitan dengan nama besar keluarga. “Sudah terlalu banyak nama kita dibuat negatif,” tandasnya. (joe)

Rumah Budaya Lembak

REKONSTRUKSI RUMAH TUE (RUMAH ADAT LEMBAK)

New Jakaba, Cara Baru Membuat Jakaba

Literasi Media